
Profil Pemateri
di laksanakan pada :
Hari, tanggal : Jum’at, 4 September 2020
waktu : 19.30 – 21.00
Pemateri : Yasir Arafat Mahasiswa IAIC ( Institut Agama Islam Cipasung ) dan santri di Pesantren Sukahideng
Topik Kajian ” Gaul Boleh Asal Jangan Keblabasan”

Bulettin, Karya Anak HMPS Pendidikan Matematika
A.Etika dalam bergaul
1. Berteman boleh dengan siapa saja dan dimana saja. Kita boleh berteman dengan siapa saja, karena pada dasarnya kita sebagai makhluk sosial pasti akan membutuhkan teman, membutuhkan batuan orang lain, dll. Kita bisa mengetahui baik-buruk itu karena ada yang melakukan kebaikan serta keburukan. Saat kita berteman dengan yang kurang baik, sepantasnya kita melakukan puji dan syukur kepada Tuhan karena telah memposisikan kita ketempat yang baik.
2. Memilah dan memilih teman. Kenapa kita harus memilih pergaulan? Karena dalam pergaulan itu akan membentuk sebuah karakter pada diri. Apabila kita bergaul dengan orang yang kurang baik, maka perlahan-lahan kita akan terbawa kurang baik. Walaupun pada awalnya tidak terasa pengaruhnya, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwasanya kita juga membutuhkan studi banding dengan pergaulan yang lain. Supaya kita luas mengetahui karakter-karakter diluar pergaulan kita, yang mana kesananya apabila kita mengetahui karakter kita bisa mempelajarinya apabila baik maka kita lakukan dengan meneladaninya dan apabila jelek kita bisa mengetahui hal tersebut jelek kemudian tidak dilakukan dan mencari solusi untuk merangkul teman kita yang kurang baik. Dan kita sepantasnya tidak membanggakan diri dan menyalahkan orang lain . Di dalam pergaulan sebenarnya tidak ada kasta orang baik atau orang buruk . Yang paling berbahaya untuk sosial dalam bergaul adalah merasa dirinya paling baik dan menganggap orang lain kurang baik. Ada sebuah keterangan : “sesuatu yang tidak ditanam terlebih dahulu maka tidak akan tumbuh dengan sempurna”. Demikian pula dengan bergaul, kita harus menanam diri terlebih dahulu dengan cara mengoreksi diri, mengenal diri, mempelajar suatu pergulan, memahaminya dan lain sebagainya.
3. Adil dalam berekspresi. Adanya suasana dan keadaan tertentu untuk mengekspreikan rasa atau emosi , tidak bisa dipungkiri bahwa di setiap perkumpulan organisasi atau tongkrongan umumnya disetiap interaksi sosial pasti adanya rasa. Baik rasa senang, sedih, marah, kecewa, cinta, benci, dll. Dalam etika bergaul rasa itu harus diekspresikan dengan adil tepat pada tempatnya dan keadaan yang tepat.
B. Batasan Bergaul
Tidak boleh keluar dari batasan agaman, negara, budaya, dan peraturan pertemanan. Kita hidup di satu negara yang memiliki beragam budaya juga berbagai agama serta bermacam-macam karakter manusia. Sebelum kita bersosial sebaiknya kita mengetahui aturan keagamaan dan aturan kenegaraan. Supaya kita tidak melewati batasan atau melanggarnya. Aturan keagamaan misalnya kita berteman denga teman yang berbeda agama, jangan menghina agamanya dan harus saling toleransi. Kemudian batasan-batasan kenegaraan ini sangat penting, contoh pergalaun yang melanggar batas-batas kenegaraan perkumpulan yang memliki visi untuk bughat. Bughat ialah ingin meruntuhkan pemerintahan yang sah dengan cara yang salah. Tidak menutup kemungkinan banyak pemuda yang memiliki sikap nasionalisme dan ingin membenarkan pemerintahan tapi dengan langkah-langkah dan tahapan – tahapan yang salah. Seharusnya kita sebagai pemuda harus menghindari bughat tersebut, apabila ingin membenarkan pemerintahan maka lakukan dengan langkah yang tepat. Yang dikhawatirkan salahnya dari mengekspresikan rasa nasionalisme adalah terbentuknya sekat antara rakyat dan pemerintah.
Selanjutnya batasan kebudayaan, kita hidup di Indonesia yang memiliki banyak ragam budaya. Yang semakin kesini semakin memudar budayanya. Contohnya etika permisi yang sekarang semakin hilang didalam pergaulan dan diiming-imgingin melanggar agama. Seperti saat dalam kumpulan dan permisi kepada lawan jenis dengan wajah yang bereri-seri itu tidak boleh. Padahal selama tidak menimbulkan syahwat maka boleh-boleh saja apalagi dengan niat menyebar senyuman yang ramah. Yang terkhir adalah batasan pertemanan , tergantung peraturan dari sebuah kumpulan yang dimana kita harus menaatinya serta memperhatikan keadaan teman .
Berteman dengan siapa saja boleh tanpa pandang bulu, tetapi harus tetap memilih pergaulan untuk membentuk karakter dan harus adil dalam berekspresi serta tidak keluar dalam batasan-batasannya. Bergaul boleh saja asal jangan keblabasan. Kita sebagai manusia yang tidak memiliki kesempurnaan yang mutlak, memiliki keterbatasan dan kekurangan sepantasnya menyadari diri dan memaklumi keterbatasan orang lain, sehingga akan tercipta toleransi dan etika yang baik. Dalam hal merangkul, selama dia adalah manusia yang memiliki hati nurani dan masih bisa diajak bicara dengan baik, maka rangkulah dengan cara yang baik. Amar ma’ruf bil ma’ruf, nahi munkar bil ma’ruf juga.