• Jalan Prof. Dr. Soepomo, SH., Umbulharjo, Yogyakarta

KAJON#6 ( Kajian Online )

KAJON#6 ( Kajian Online )

” Mendekap Dalam Harap “
Oleh : Fitricia Febriyani
(Mahasiswa Profesi Apoteker Universitas Ahmad Dahlan)

Sejatinya Allah telah mengajarkan bahwa setiap manusia harus selalu berusaha untuk mendekat kepadanNya dalam segala suasana hati. Ketika kita merasa bahagia sejatinya kita berusaha untuk senantiasa bersyukur begitupun ketika dalam keadaan susah, harus berusaha dalam kesabarankesabaran.
Oleh karena itu, ketika rasa kesepian itu datang, kita sebaiknya berusaha untuk mengerti. Bahwa semua yg datang dari Allah adalah karunia Allah. Di dalam quran surah Al-baqarah :186 ” Maka sesungguhnya aku dekat aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadamu ” Jadi ketika kita sedang merasakan suatu pengharapan, impian yang ingin dicapai, merasakan cinta kita harus mendekatkan semuanya kepada Allah SWT.

Setiap pengharapan yang ingin kita capai selalu kita niatkan untuk orientasi akhirat kita. Karena ketika kita sudah menempatkan semua pengharapan tersebut pada orientasi akhirat kita maka dalam penggapaiannya kita akan melakukannua dengan teknis yang super jitu.Teknis yang bukan hanya mendapatkan izin Allah melainkan mendapatkan ridho Allah SWT.
Ingatlah Allah pasti tidak akan mau jika kita jadikan Allah hanya sebagai alternatif tempat kita mengadu segala harap.

Ketika senang, kita akan menghilang dengan manusia dan keadaan, sementara ketika mereka mengecewakan kita, baru kita datang dan mengadakan kepadaNya. Padahal, hanya Allah yang mencukupkan segala sesuatu. Memang rasa kesepian seringkali kita gunakan untuk mencari oemakluman terhadap kelakuan kita, sehingga akhirnya kita memutuskan untuk dekat dengan seseorang, Amor vincit omnia Cinta menaklukan segalanya. Kalimat ini banyak sekali merasuk kedalam literatur dan karya sastra dunia muslim.

Berbicara tentang cinta itu seperti berbicara tentang sumur air zam- zam, mengapa begitu karena air zam-zam tidak akan pernah habis dan kering. MasyaAllah bukan?
Kok tiba-tiba berbicara tentang cinta?
Karena mendekap dalam harap identik dengan cinta. Cinta kepada Allah, kepada rasul dan kepada makhluk Allah bahkan benda yang ada disekitar kita. Kita akan memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa menggapai harapan tersebut.

Jika kita kerucutkan dalam konteks cinta kepada makhluk. Maka, Jatuh cinta memang bukan pilihan. Walau awalnya kita mungkin tidak mengira, namun kalau cinta sudah datang di hati, tak akan ada yang mampu untuk mengelak atau menghindari. Itulah mungkin yang dinamakan KEAJAIBAN CINTA. Datangnya tidak dapat diterka, dan ketika cinta itu telah terasa, maka hati pun kemudian dikuasainya.
Walau begitu, tidak semua tentang cinta membuat kita seolah menjadi makhluk yang tidak berdaya. Menyikapi dan menjalani TEKNIS mencinta ternyata adalah pilihan, atau dengan kata lain, banyak cara untuk melakukannya.

Jika kita memiliki ketertarikan kepada seseorang itu terjadi sesungguhnya atas IZIN Allah, tetapi apakah kita mencari izin Allah? Tentu saja bukan. Yang kita cari adalah RIDHO ALLAH SWT.
Karena kita suka, kita berharap sama seseorang karena Allah yang menanam perasaan tersebut . Teknis nya bagaimana agar kita bisa mengelola itu semua dalam hal yang baik. Kita bawa perasaan tersebut untuk mendekat kepada Allah, berharap kepada Allah, berdoa kepada Allah. InsyaAllah Allah yang akan menjaganya Akan tetapi jika kita makin lupa ke Allah dan biasanya menjurud ke ” dosa” Pastikan itu suatu hal yang tidak baik.

Tak perlu menyalahkan cinta yg kita yakini telah membutakan mata dan hati. Karena datangnya cinta adalah dari Allah, zat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Salahkanlah mata dan hati kita sendiri, karena rupanya telah menjadikan cinta sebagai alasan untuk sekali lagi berani melakukan aksi dosa. Terkadang dengan cara mengganti TAUHID dari berserah diri kepada Allah menjadi berserah diri dan pasrah kepada cinta.
“Cinta itu mensucikan akal, menghilangkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, menambah semangat, mengenakan wewangian, serta menjaga adab dan kepribadian” -Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah-

Allah memberikan kita karunia cinta, bukan untuk menjadi alasan bagi kita untuk melakukan aksi DOSA Karena, nikmat cinta terlalu indah untuk kita kotori dan Allah sungguh Mahasuci dan Mahakuasa untuk kita khianati.