
dengan Tema ” Aku Ingin Mengenal-Mu Lebih Dekat “
bersama : Muhammad Haikal Zaki
(Mahasiswa UIN SGD Bandung)
Kita sebagai Muslim apalagi kita adalah pemuda-pemuda Muslin yang sudah Mukallaf (Aqil dan Baligh) mempunyai Kewajiban yaitu معرفة الله (mengenal Allah). Karena Allah SWT lah yang telah menciptakan kita dari ketiadaan. Yang dimaksud dengan mengenal Allah disini adalah mengetahui dan meyakini adanya Allah SWT seperti yang telah difirmankan oleh Allah yaitu Surat Ad-Dzariyat ayat 56. Menurut sebagian ulama maksud dari kalimat “supaya mereka mengabdi kepada-Ku” diartikan sebagai “supaya mereka mengenali-Ku”
Seorang Imam yang mahsyur, yang tidak asing di telinga kita yaitu Imam Ghazali. Beliau mengatakan bahwa kunci dari mengenal Allah tidak lain tidak bukan adalah Mengenali Diri Sendiri. Loh, kenapa mengenali diri sendiri? kan kita Ingin mengenali Allah SWT??
Karena Rasulullah SAW bersabda :
من عرف نفسه ققد عرف ربه
“Barangsiapa yang Mengenali Diri sendiri, maka ia sungguh akan mengenali tuhannya”
Logika sederhananya: mau bagaimana kita mengenali tuhan apabila kita diri sendiri tidak diketahui. Lantas, bagian diri mana yang harus kita kenali. Tentu lebih dari sekedar pengenalan diri secara lahiriah: Seberapa besar diri kita, bagaimana anatomi tubuh kita. Bukan pula atribut-atribut kita: jabatan, status sosial,tingkat ekonomi. Namun Lebih dalam, yaitu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
Siapa aku?
Dari mana aku datang?
Kemana aku akan pergi?
Tujuan persinggahan aku di bumi?
Dimanakah kebahagiaan sejati?
Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana namun sangat kompleks. Mungkin kita sudah tahu apa jawabannya, tapi belum tentu mampu menjiwai secara keseluruhan aktifitas kita.
Imam Ghazali mengawali penjelasan untuk mengenali dri sendiri dengan sifat-sifat yang ada di manusia. terdapat 3 Sifat di dalam manusia yaitu: sifat -sifat Binatang, sifat-sifat syaiton, dan sifat-sifat malaikat. Seperti apa sifat-sifat binatang?
Seperti banyak kita jumpai, binatang adalah makhluk hidup dengan rutinitas kebutuhan bilogis yang sama persis dengan manusia. Mereka tidur, makan, minum, kawin, berkelahi, dan sejenisnya. Manusia pun menyimpan kecenderugan ini, dan bahkan memiliki ketergantungan yang nyaris tak bisa dipisahkan. Apa itu Sifat-Sifat Setan? Setan adalah representasi keburukan. Ia digambarkan selalu mengobarkan keja¬hatan, tipu daya, dan dusta. Demikian pula orang-orang yang memiliki sifat setan. Apa itu Sifat-sifat Malaikat? sifat-sifat malaikat berarti sifat-sifat yang senantiasa menerungi keindahan Allah, memuji-Nya, dan mentaati-Nya secara total.
Secara ringkasnya, kebahagian hewani adalah ketika kenyang, mampu memuaskan hasrat, dapat memenuhi kepentingannya. Kebahagiaan setan adalah ketika berhasil mengelabuhi yang lain atau membuat kejahatan. Sementara kebahagiaan kalaikat ialah saat diri mendekat kepada Allah dan semua aktifitas-aktifitas merupakan cerminan tersebut.
Imam Ghazali menggambarkan manusia ini layaknya Seperti sebuah kerajaan yang memiliki empat struktur pokok:
- Jiwa sebagai raja
- Akal sebagai perdana menteri
- Syahwat sebagai pengumpul pajak
- Amarah sebagai polisi

Syahwat memiliki karakter untuk menarik manfaat, kenikmatan, dan keuntungan sebanyak-banyaknya. Ia befungsi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individu. Sementara amarah berfungsi melindungi dari berbagai ancaman atau mudarat, karenanya ia identik dengan karakter berani, cenderung kasar dan keras. Keduanya penting untuk kehidupan manusia. Namun, syahwat dan amarah ini harus didudukan di bawah kendali akal sebagi perdana menteri. Apabila syahwat dan amarah ini menguasai akal maka manusia akan berjalan tidak sesuai kontrol yang seharusnya. Karena syahwat yang tidak dikendalikan oleh akal dan Jiwa maka akan memunculkan sifat-sifat buruk seperti rakus dan tamak. Sedangkan amarah yang tidak dikendalikan oleh akal dan jiwa akan menimbulkan kebencian dan kecurigaan berlebihan sehingga muncul sikap membabi buta dan semena-mena.
Akal pun harus berada di bawah kendali Jiwa atau hati (قلب). Memang akal memiliki kemampuan yang istimewa seperti berfikir, berimajinasi, berencana. Namun jika akal ini bertindak liar tidak dikendalikan oleh Hati maka akal ini akan membantu syahwat dan amarah secara tidak teratur dan menjadikan manusia sebagi tukang tipu daya atau semacamnya. Kalau kita pernah mendengar kalimat “orang pintar yang gemar minterin (memperdaya) orang lain” maka itu tak lain akibat akal bertolak belakang dengan nurani alias tak berada dalam naungan jiwa yang bersih. Untuk mencapai jiwa yang berkuasa utuh, Imam Al-Ghazali menekankan adanya perjuangan keras dalam olah rohani (مجاهدة) demi proses pembersihan jiwa atau تزكية النفس. Jiwa yang jernih akan memicu munculnya cahaya Ilahi yang memberi petunjuk manusia akan jalan terbaik bagi langkah-langkahnya.
Allah SWT. Berfirman:
و الذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (مجاهدة) Untuk (mencari keridhan) Kami. Benar-benar akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. Al-Ankabut: 69)
Maka dari itu, kita harus mengenal diri kita sekenal-kenalnya. Sehingga kita tahu hakikatnya kita itu seperti apa. Semoga kita termasuk orang-orang yang lebih banyak belajar mengenali diri sendiri, ketimbang menilai orang lain, untuk menggapai kebahagiaan hakiki.